Sabtu, 10 Juli 2010

VAKSIN & IMUNISASI

Sistem imun:
a. Non Spesifik ( Natural, Innate)
b. Spesifik( adaptive, aquired) :
- Humoral / Sel B
- Selular / Sel T

Organ Sistem Limfoid:
 Sel-sel sistem imun ditemukan dalam jaringan dan organ yang disebut sitem limfoid
 Organ limfoid berupa kumpulan nodul kecil yang mengandung banyak limfosit
 Organ limfoid dibagi menjadi 2 ; organ limfoid primer dan organ limfoid sekunder

Organ Limfoid Primer:
 Diperlukan untuk pematangan diferensiasi dan proliferasi sel T dan sel B menjadi limfosit yang dapat mengenal antigen
 2 organ limfoid primer : kelenjar timus dan bursa fabricius atau sejenisnya seperti sumsum tulang

Organ limfoid Sekunder:
 Fungsinya menangkap & mengumpulkan antigen dengan efektif
 Proliferasi dan deferensiasi limfosit yang disensitisasi oleh antigen spesifik
 Tempat utama produksi antibodi
 Terdiri dari
1. Sistem imun kulit (Skin Associated Lymfoid Tissue/SALT)
2. Sistem imun mukosa (Mucosal-Associated Limfoid Tissue/MALT)
3. Gut-Associated Lymphoid Tissue (GALT)
4. Kelenjar getah bening
5. Limpa

Sistem Imun Non Spesifik:
1. Fisis / mekanik:
• Kulit
• Selaput Lendir
• Silia
• Batuk
• Bersin
2. Larut:
a. Biokimia
• Asam lambung
• Lisosim
• Laktoferitin
• Asam neuraminik
• dll
B. Humoral
• Komplemen
• Interferon
• CRP
3. Selular:
• Fagosit
• Sel NK


Sistem Imun Non Spesifik
 Pertahanan Humoral
1. Komplemen
Mempunyai fungsi
a. Merusak/ lisis membran bakteri
b. Melepaskan bahan kemotaksis yangmenarik makrofag ke tempat bakteri
c. Melakukan opsonisasi (menutupi permukaan bakteri
2. Interferon
a. suatu glikoprotein yang dihasilkan berbagai sel tubuh manusia sebagai respon terhadap infeksi virus,
b. Mempunyai sifat antivirus dengan jalan menginduksi sel-sel disekitar sel yang telah terserang infeksi virus menjadi resisten terhadap virus tersebut
c. Mengaktifkan sel NK (natural Killer cell)
3. C Reactive Protein (CRP)
a. dibentuk pada saat infeksi
b. perannya sebagai opsonin dan mengaktifkan komplemen
b. Pertahanan selular
1. Fagosit
a. berbagai sel tubuh dapat melakukan fagosit, sel utama yang berperan dalam mekanisme imun non spesifik ialah sel mononuklear (monosit dan makrofag) serta sel polimorfonuklear (neutrofil)
b. kerja fagosit : kemotaksis, menangkap, membunuh dan mencerna.
2. Natural killer cell (sel NK)
a. sel limfoid, disebut juga sel non B non T
b. dapat menghancurkan sel yang mengandung virus atau sel neoplasma
c. Berbeda dengan imun non spesifik, imun spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenali benda asing/antigen bagi dirinya
d. benda asing dikenali, kemudian mensensitisasi sistem imun, jika bertemu kembali akan dikenali dan dengan cepat akan dihancurkan
e. sistem ini dapat bekerja sendiri, tetapi umumnya terjalin kerjasama antara antibodi, komplemen, fagosit dan antara sel T – makrofag

Antigen atau imunogen
 Bahan yang dapat menimbulkan imun spesifik pada manusia atau hewan
 Komponen antigen yang disebut determinan antigen atau epitop adalah bagian antigen yang dapat mengikat antibodi
 Hapten adalah determinan antigen dengan berat moleku kecil dan baru menjadi imunogen bila diikat oleh molekul besar (carrier), dan dapat mengikat antibodi
 Hapten biasanya dikenal oleh sel B dan carrier oleh sel T. carrier dan hapten sering digabung dalam usaha imunisasi
 Antigen alamiah >> adalah protein besar dengan Berat molekul > 40.000. dan polisakarida mikrobial

Pembagian Antigen
 Menurut epitop
 Unideterminan univalen
 Unideterminan multivalen
 Multideterminan univalen
 Multideterminan multivalen
 Menurut spesifisitas
 Heteroantigen, yang dimiliki oleh banyak spesies
 Xenoantigen, yang hanya dimiliki oleh spesies tertentu
 Aloantigen (isoantigen) yang spesifik untuk individu dalam satu spesies
 Autoantigen yang dimiliki alat tubuh sendiri
 Menurut ketergantungan terhadap sel T
 T dependen, memerlukan pengenalan oleh sel T lebih dahulu untuk menimbulkan respon antibodi. Pada umumnya antigen protein
 T independen dapat merangsang sel B tanpa bantuan sel T, kebanyakan molekul besar polimerik yang dipecah dalam tubuh secara perlahan, misal lipopolisakarida, ficoll, dekstran, levan, flagelin polimerik bakteri
 Menurut sifat kimiawi
 Hidrat arang (polisakarida), imunogenik, misal :Golongan darah ABO
 Lipid, biasanya tidak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat oleh protein pembawa (dianggap hapten)
 Asam nukleat, tidak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik jika diikat oeleh protein pembawa
 Protein, umumnya imunogenik multideterminan dan univalen

Sistem Imun Spesifik Humoral
 Sel B dirangsang berproliferasi, berdeferensiasi menjadi sel plasma yang membentuk antibodi (imunoglobin = Ig). Antibodi yang dilepas dapat ditemukan di plasma
 Antibodi akan mengikat antigen yang menimbulkannya secara spesifik
 Fungsi utama antibodi : mempertahankan tubuh terhadap infeksi bakteri, virus dan melakukan netralisasi toksin.

Antibodi
 golongan protein yang dibentuk oleh sel plasma
 serum protein dipisahkan dengan elektroforesis, Ig yang terbanyak fraksi globulin gamma, meskipun ada yang lain fraksi globulin alfa dan beta
 Ig mempunyai 4 polipeptid dasar yaitu 2 rantai berat (heavy chain) dan 2 rantai ringan (light chain) yang identik yang dihubungkan oleh ikatan disulfida

Antibodi:
1. Ig. G
• komponen utama imunoglobulin serum (75%)
• dapat menembus plasenta dan masuk fetus, berperan dalam imunitas bayi sampai umur 6-9 bulan.
• mengaktifkan komplemen
• meningkatkan pertahanan melalui opsonisasi dan reaksi inflamasi
• monosit dan makrofag mempunyai reseptor untuk fraksi Fc dari Ig G
2. Ig. A
• ditemukan dalam jumlah sedikit di serum
• >> di saluran nafas, saluran cerna, air mata, keringat, ludah dan air susu
• Ig A dalam serum maupun sekret dapat menetralisir virus/toksin dan atau mencegah kontak antara virus/toksin dengan alat sasaran.
3. Ig. M
• Ig terbesar (rumus bangun pentamer)
• dibentuk paling dahulu pada respon imun primer, karena kadar Ig.M yang tinggi merupakan tanda infeksi dini
• tidak dapat menembus plasenta : bayi baru lahir hanya mempunyai IgM 10 % dari kadar IgM dewasa.
• fetus umur 12 mg sudah dapat membentuk IgM bila sel B dirangsang oleh infeksi intra uterina (sipilis konginetal, rubela, toksoplasmosis, virus sitomegalo)
• IgM anak = Ig M dewasa pada usia 1 tahun
• kebanyakan Antibodi alamiah adalah Ig M (Isoaglutinasi, Golongan darah ABO, antibodi heterofil)
• fungsi : mencegah gerakan mikroorganisme patogen, memudahkan fagositosis, sebagai aglutinator kuat, dapat mengikat komplemen dengan kuat.
4. Ig. D
• ditemukan kadarnya sangat rendah dalam darah
• tidak mengikat komplemen
• mempunyai aktifitas antibodi terhadap antigen berbagai makanan dan auto-antigen seperti komponen nukleus.
• bersama dengan Ig M di permukaan sel B sebagai reseptor antigen
5. Ig. E
• jumlahnya sangat sedikit dalam serum
• mudah diikat oleh mastosit dan leukosit basofil yang permukaannya memiliki reseptor untuk fraksi Fc
• dibentuk setempat oelh sel plasma dalam selaput lendir saluran nafas dan cerna
• kadarnya >> pada alergi, infeksi cacing, skistosomiasis, penyakit hidatid, trikinosis dan diduga berperan pada imunitas parasit

Sistem Imun Spesifik Selular:
 Yang berperan Limfosit T, (dimatangkan di kelenjar Timus)
 Terdiri dari beberapa subset yang mempunyai fungsi yang berlainan
 Fungsi sel T
 Membantu sel B dalam meproduksi antibodi
 Mengenal dan menghancurkan sel yang terinfeksi virus
 Mengaktifkan makrofag dalam fagositosis
 Mengontrol ambang dan kualitas sistem imun

Sel T:
1. Sel Th (T helper)
• Membantu sel B memproduksi antibodi, kebanyakan antigen harus dikenali dahulu oleh sel T maupun sel B
• Sel Th berpengaruh atas atas sel Tc dalam mengenal sel yang terkena virusdan jaringan cangkok alogenik
• Berfungsi untuk mengaktifkan sel subset T lainnya (sel T inducer)
• Sel Th melepaskan limfokin untuk mengaktifkan makrofag dan sel lainnya
2. Sel Ts ( T supresor)
• Menekan aktivitas sel T yang lain dan sel B.
• Menurut fungsinya sel T dibagi
 Sel T spesifik untuk antigen tertentu
 Sel Ts Non spesifik
3. Sel Tdh atau Td (delayed hypersensitivity)
• Berperan dalam pengerahan makrofag dan sel inflamasi lainnya ke tempat terjadinya reaksi lambat
• Fungsinya menyerupai sel Th
4. Sel Tc (cytotocic)
• Mempunyai kemampuan menghancurkan sel alogenik dan sel asasaran yang mengandung virus
• Sel Th dan sel Ts disebut sel T regulator
• Sel Tdh dan sel Tc disebut sel T efektor

Reaksi Hipersensitivitas
 Respon imun yang berlebihan dan yang tidak diinginkan karena dapat menimbulkan kerusakan jaringan tubuh.
 Menurut Gell & Coombs dibagi 4 tipe menurut kecepatan dan mekanisme imun yang terjadi

Reaksi hipersensitivitas
(Gell dan Coombs):
 Tipe I
 Reaksi cepat
 Ig E diikat oleh reseptor pada dinding sel mastosit, sel leukosit atau basofil, kemudian akan mengeluarkan mediator kimia yang menyebabkan kontraksi otot polos, meningkatnya permeabilitas kapiler serta hipersekresi kelenjar mukus
 Manifestasi setelah pemberian obat
 Kejang bronkus sampai edema larings : sesak sampai sulit bernafas
 Urtikaria
 Angioedema
 Pingsan dan hipotensi
 Reaksi ini sering disebut anafilaksis, renjatan anafilaksis dapat terjadi 30 menit setelah pemberian obat. Penyebab tersering adalah penisilin
 Tipe II
 Reaksi sitotoksik, oleh karena dibentuk antibodi tipe IgG atau IgM, antibodi mensensitisasi sel K (ADCC=antibodi dependent cell cytotoxicity) atau komplemen yang mengakibatkan lisis
 Manifestasi umumnya berupa kelainan darah, seperti anemia, eosinofilia dan granulositopenia
 Nefritis intertitial
 Penyakit autoimun : miastenia gravis
 Tipe III
 Reaksi kompleks imun terjadi karena penimbunan kompleks antigen-antibodi dalam jaringan atau pembuluh darah. Antibodi biasanya Ig G. kompleks akan mengaktifkan komplemen yang kemudian akan melepas macrophag chemotactic factor, makrofag yang dikerahkan ke tempat tersebut akan merusak jaringan sekitarnya
 Gejala timbul 5 – 20 hari, tetapi jika sebelumnya pernah mendapat obat tersebut, gejala dapat timbul dalam waktu 1-5 hari
 Tipe III
 Manifestasi klinik dapat berupa
 Urtikaria, angioedema, eritem, makulopapula, eritem multiforme
 Demam
 Kelainan sendi, artralgia dan efusi sendi
 Limfodenopati
 Lain-lain
 Kejang perut, ual
 Neuritis optik
 Glomerulonefritis
 Sindrom lupus eritematosus sistemik
 Gejala vaskulitis lainnya

Makula:

I. Adalah lesi datar berbatas tegas berbeda warna dengan kulit sekitarnya. Terjadi oleh karena :
Hiperpigmentasi (A)
Hipopigmentasi
Pigmentasi dermal (B)
Dilatasi kapiler (C)
Purpura (D)
Abnormalitas vaskuler

II. Makula eritem multipel batas tegas akibat dilatasi kapiler pada erupsi obat

Papula
I. Adalah lesi padat yang menonjol padapermukaan kulit berukuran kecil ( < 1 cm)
Terjadi oleh karena :
Deposit metabolik (A)
Infiltrat terbatas pada dermis (B)
Hiperplasi lokalisata elemen seluler epidermis dan dermis (C)
II. Papul pada nevus melanositik
III. Papul multipel pada liken planus

 Tipe IV
 Reaksi hipersensitifitas tipe lambat, timbul lebih dari 24 jam setelah tubuh terpapar
 Reaksi terjadi karena respon sel T yang sudah disensitisasi terhadap antigen tertentu. Tidak ada peran antibodi. Sel T akan melepas MIF, MAF. Makrofag yang diaktifkan akan menimbulkan kerusakan jaringan
 Terdapat 4 jenis
 Reaksi Jones Mote
 Hipersensitivitas Kontak
 Tipe tuberkulin
 Reaksi Granulomata
 Tipe IV
 Manifestasi dapat berupa reaksi paru akut seperti demam, sesak, batuk, infiltrat paru dan efusi paru obat yang sering menyebabkan reaksi ini nitrofurantoin
 Nefritis intertitial, ensefalomielitis dan hepatitis karena reaksi alergi obat
 Manifestasi paling sering dermatitis
 Pemakaian obat topikal (sulfa, penisilin atau antihistamin) bila telah sensitif gejala dapat muncul 18-24 jam setelah obat dioleskan

Diagnosis
1. Anamnesis
 Paling penting
 Beberapa yang perlu diperhatikan
1. Catat semua obat yang dipakai termasuk vitamin, tonikum dan juga obat yang sebelumnya telah sering dipakai tetapi tidak menimbulkan alergi
2. Lama waktu dari mulai pemakaian obat sampai timbulnya gejala
3. Cara, lama pemakaian serta riwayat pemakaian obat. Alergi obat sering timbul bila obat diberikan secara berselang seling, berulang-ulang serta dosis tinggi secara parenteral
4. Manifestasi klinis
5. Gejala menghilang setelah dihentikan, dan timbul kembali setelah minum obat.
2. Test Kulit
 Terbatas hanya beberapa macam obat (penisilin, insulin, beberapa produk serum)
1. Beberapa reaksi bukan disebabkan obat aslinya tetapi dari hasil metabolismenya
2. Beberapa obat bersifat sebagai pencetus lepasnya histamin (kodein, tiamin) sehingga test positif yang terjadi semu
3. Konsentrasi obat yang terlalu tinggi juga menimbulkan positif semu
 Lazim dipakai pada reaksi alergi tipe I, untuk melihat reaksi lambat belum diakui sebagai prosedur yang berguna
3. Pemeriksaan Laboratorium
 Test kulit hanya terbatas beberapa macam obat
 RAST (Radio Allergen Sorbent Test) : pemeriksaan untuk menentukan adanya Ig E spesifik terhadap berbagai antigen
 Pemeriksaan untuk diagnosis reaksi sitolitik (tipe II) dapat menggunakan Coombs test indirek sedangkan trombositopenia dengan reaksi fiksasi komplemen atau reaksi aglutinasi
 Reaksi hemaglutinasi dan komplemen, dengan adanya Ig G atau Ig M terhadap obat (tipe III)
 Reaksi tipe IV agak rumit

Pengobatan
 Tindakan pertama : hentikan obat yang kita curigai, atau seluruhnya, jika tidak mungkin berikan obat essensial saja yang kecil kemungkinan untuk menimbulkan alergi
 Berikan obat lain yang rumus imunokimianya lain
 Kortikosteroid dosis tinggi dan cegah infeksi sekunder

Pencegahan
 Prinsip test provokasi atau desensitisasi ialah memberikan dosis permulaan yang sangat kecil, kemudian dinaikan sampai dosis terapuetik tercapai
 Untuk mencegah reaksi anafilaktik
 Jika penderita sudah jelas mempunyai riwayat alergi obat, obat tersebut tidak boleh diberikan
 Sediakan obat-obat darurat alergik : adrenalin, antihistamin, aminophilin dan diazepam semuanya dalam bentuk suntik.

Imunisasi:
 Imunisasi atau vaksinasi : prosedur untuk meningkatkan derajad imunitas, memberikan imunitas protektif dengan menginduksi sel memori terhadap patogen tertentu/toksin dengan menggunakan preparat antigen nonvirulen/nontoksik.
 Antibodi yang ditimbulkan harus efektif terutama terhadap mikroba ekstraselular dan produknya (toksin)
 Antibodi mencegah adheren mikroba masuk ke sel atau menetralisir toksin (difteri,klostridium). Misalnya, Ig A menempel pada mukosa (polio) mencegah masuknya virus/ bakteri.

 Transfer pasif dari ibu ke anak, Ig G dapat menghambat imunisasi yang efektif pada bayi. Jadi sebaiknya imunisasi ditunggu sampai antibodi ibu menghilang dari anak.
 Imunitas selular (sel T, makrofag) yang diinduksi vaksinasi esensial untuk mencegah dan eradikasi bakteri, protozoa, virus dan jamur intraselular.
 Vaksinasi harus diarahkan untuk menginduksi baik sistem imun selular maupun humoral.
 Infeksi cacing dipilih induksi Th2 yang memacu produksi IgE, sedangkan terhadap mikobakterium dipilih respon Th1 yang mengaktifkan makrofag (DTH).
 Imunisasi pasif dengan sel, dewasa ini tidak dapat dilakukan karena menimbulkan imunitas transplantasi terhadap sel asal donor dengan histokompotibilitas yang berbeda.

Imunisasi:
1. Alamiah:
a. Pasif:
Antibodi
via plasenta
dan
kolostrum
b. Aktiv:
Inveksi Kuman
2. Buatan:
a. Pasif :
• Antitoksin
• Antibodi
b. Aktif :
• Toksoid
• Vaksinasi

Imunogenitas dan antigenitas
 Imunogenitas : Sifat dasar bahan tertentu (imunogen). Imunogen ialah bahan yang dapat menginduksi respon imun, yang ditandai dengan induksi sel B memproduksi Ig, aktivitas sel T yang melepas sitokin
 Antigenitas : kemampuan suatu bahan untuk menginduksi respon imun yang dapat bereaksi dengan reseptor antigen tersebut
 Imunogenisitas dan antigenitas sering digunakan dan diartikan sama
 Vaksin yang sering digunakan terdiri atas antigen multipel, yang masing-masing dapat memiliki antigenisitas spesifik atau epitop
 Epitop dapat berubah (dihilangkan, ditambah atau dirubah)
 Untuk meningkatkan jumlah epitop ialah dengan menambah bahan yang dinamakan Hapten (molekul kecil nonimunogenik) yang dapat menambah epitop baru (spesifitas baru) bila dikonjugasikan dengan antigen yang ada
 Ajuvan : bahan yang berbeda dari antigen yang memacu aktivasi sel T melalui peningkatan akumulasi APC di tempat pajanan antigen dan ekspresi kostimulator dan sitokin oleh APC
 Ajuvan memiliki sifat
 Membuat depot antigen dan melepas antigen sedikit demi sedikit
 Mempertahankan integritas antigen
 Mempunyai sasaran APC
 Menginduksi CTL/Tc
 Memacu respons imun dengan afinitas tinggi
 Mempunyai kapasitas untuk mengintervensi sistem imun yang selectif (sel B & Sel T)

Antigen:
 Tipe antigen yang digunakan pada vaksin tergantung pada berbagai faktor
 Makin banyak antigen mikroba yang dipertahankan makin baik
 Organisme hidup cenderung lebih efektif daripada organisme mati, kecuali pada penyakit yang disebabkan oleh toksin, yang mana antigen cukup dibuat dari toksin saja
 Antigen mikroba dapat diekspresikan pada sel lain yang berfungsi sebagai vektor

Imunisasi:
 Dapat secara subcutan atau intramuskular (>>)
 Intravena (IV) dapat menurunkan respon imun, IV diberikan pada pasien dengan defisiensi imun humoral seperti hipogamaglobulinemia Bruton
 Oral : polio (Sabin)
 Intra nasal : produksi sIgA.
 Respon imum dipengaruhi oleh
 Endogen : usia, genetik dan kesehatan umum
 Eksogen : infeksi intermiten, status gisi dan medikasi

Vaksin Hidup:
1. Vaksin hidup alamiah
• Vaksinia, tidak ada organisme alamiah lain yang pernah mendapat ijin untuk digunakan secara luas
• Segi keamanan harus diperhatikan
2. Vaksin hidup yang dilemahkan
• Melemahkan patogen manusia
• Tujuannya mengurangi virulensi dengan tetap mempertahankan antigen yang diinginkan
• Calmette & Guerin : Mycobacterium Tuberculosis strain bovin dibiakan secara berulang selama 13 th berubah menjadi tidak virulen
• Virus demam kuning strain 17D yang ditanam pada tikus dan anak ayam, virus polio, campak, parotitis sampai rubela.
3. Perlemahan dengan mutasi
• Perubahan sifat organisme dicapai dengan sederetan mutasi acak, diinduksi oleh kondisi media yang tidak menguntungkan, selalu dipantau dan diseleksi untuk mendapatkan organisme yang telah kehilangan virulensi tetapi masih utuh mempertahankan antigenitasnya
• Vaksin sabin (sabin) hidup : tipe 1,2 & 3
• Metode rekombinan DNA, vaksin hidup dapat dilemahkan dengan mutasi terarah dan bukannya secara mutasi acak

Vaksin Mati:
 Vaksin mati adalah organisme yang utuh tetapi tidak hidup, kelanjutan dari vaksin mati Pasteur
 Ada yang amat efektif : vaksin rabies dan vaksin polio Salk
 Cukup efektif : demam tifoid, kholera, influensa
 Manfaatnya masih diragukan : pes, tifus
 Kontroversial keamanannya : pertusis, berpotensi menyebabkan cedera otak

TOKSOID:
 Merupakan vaksin bakteri yang paling berhasil, misalnya vaksin tetanus dan difteri vaksin ini dibuat dari eksotoksinyang diinaktifkan
1. Toksoid difteri dan toksoid tetanus yang diinaktifkan dengan formalin dan sering diberikan secara kombinasi dalam alum-precipitated.
2. Toksin subunit B dari vibrio cholerae, kadang dikombinasikan dengan organisme utuh yang mati
3. Toksoid clostridium perfringens, yang diinaktifkan dengan formalin, untuk anak kambing baru lahir (belum ada untuk manusia)

FRAGMEN SUBSELULAR & ANTIGEN PERMUKAAN:
 Merupakan vaksin yang aman dan efektif
 Antigen permukaan kebanyakan organisme merupakan antigen yang pertama kali dikenali dan mendapat respon dari sistem imun
 Antigen permukaan efektif sebagai vaksin organisme yang dapat dengan cepat dikendalikan oleh respon antibodi
1. Neisseria meningitidis, efektif untuk N, meningitidis group A & C, sedangkan group B bersifat non imunogenik
2. Streptococcus pneumoniae, vaksinnya mengandung 23 serotipe dari 84 serotipe
3. Haemophilus influenzae B (semua vaksin yang berasal dari kapsul polisakarida memerlukan konjugasi dengan protein pembawa
4. Virus hepatitis B, efektivitas lebih dari 95 %

SINTESIS ATAU DENGAN KLONING GEN:
 Jika peptida kecil mempunyai sifat antigenik yang kuat untuk menimbulkan imunitas, akan lebih baik dibuat secara sintesis atau dengan kloning gen
 Cara ini sangat berhasil pada antigen permukaan hepatitis B (HbsAg)yang diklon ke dalam ragi (menggantikan vaksin hepatitis generasi I)

EFEKTIVITAS VAKSIN:
 Vaksin yang efektif ialah
1. Merangsang timbulnya imunitas yang tepat
2. Stabil dalam penyimpanan
– Biasanya perlu disimpan di tempat dingin
– Memerlukan rantai pendingin (cold chain) yang sempurna dari pabrik ke klinik
3. Mempunyai imunogenitas yang cukup
– Imunogenitas vaksin bahan mati sering perlu dinaikan dengan ajuvan

KEAMANAN VAKSIN
 Vaksin dapat terkontaminasi oleh protein atau toksin yang tidak diinginkan atau virus hidup
 Vaksin bahan mati belum betul-betul mati atau vaksin mikroba hidup yang dilemahkan dapat kembali ke tipe liarnya
 Hipersensitif terhadap protein kontaminan
 Sistem imun pasien dapat terganggu sehingga vaksin hidup merupakan kontraindikasi

INTEVAL PEMBERIAN VAKSIN
 Beberapa vaksin (DPT,DT,Polio,TT dan Hepatitis B) harus diberikan lebih dari satu dosis untuk mendapatkan respon antibodi yang adekuat
 Harus dihindari pemberian vaksin yang sama dengan interval kurang dari 4 minggu karena mengurangi respon antibodi, memperpanjang interval pemberian dapat meningkatkan respon antibodi
 Interval pemberian yang lebih panjang dari yang disarankan tidak mengurangi kadar antibodi akhir
 Dalam satu kunjungan anak bisa mendapatkan beberapa jenis imunisasi yang disuntikan pada tempat yang berbeda, namun vaksin-vaksin tersebut tidak boleh dicampur dalam satu spuit
 Bila tidak diberikan pada hari yang sama, vaksin hidup harus diberikan dengan jarak minimum 4 minggu (vaksin campak dan polio) untuk menghindari terjadinya interferensi efek

ERADIKASI
 Imunisasi cacar mampu mengeradikasi penyakit cacar
 Vaksin polio, parotitis dan rubela menunjukan keberhasilan yang diharapkan (eradikasi abad 21)
 Sulit untuk eradikasi
1. Status pengindap
– Hepis memerlukan pemutusan rantai pengindap
2. Efektivitas suboptimal
– BCG, insiden TBC >> akibat penderita AIDS
– Imunisasi pertusis ± 70 %
3. Efek samping
– Vaksin pertusis dicurigai mempunyai efek samping
4. Bentuk-bentuk kehidupan di alam bebas dan hospes binatang
– Basil tetanus dapat hidup untuk waktu lama di alam bebas (bentuk spora)
– Demam kuning sulit diberantas karena mempunyai hospes binatang sebagai reservoir

BELUM TERDAPAT VAKSIN
 Vaksin HIV
 Herpes
 Adenovirus & rhinovirus karena keduanya mempunyai banyak serotipe
 Bakteri : stafilokokus, streptokokus grup A, Mycobacterium leprae, triponema pallidum dan klamidia
 Jamur : kandidiasis
 Penyakit protozoa : malaria (antigeniknya bervariasi), tripanosomiasis dan leismaniasis
 Cacing : skistosomiasis dan onkoserkariasis

Imunisasi di Indonesia
 Diharuskan
1. BCG (Bacillus Calmette-Guerin)
2. Hepatitis B
3. DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus)
4. Polio
5. Campak
 Dianjurkan
1. MMR (measles/campak, mumps/parotitis, rubella/campak jerman
2. Hib (Haemophilus influenzae b)
3. Demam tifoid
4. Hepatitis A

B C G
(BACILLUS CALMETTE-GUERIN)
 Pemberian Imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit Tuberkulosis ( TBC )
 Kuman TBC menyerang berbagai organ tubuh, seperti paru-paru (paling sering terjadi), kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati, atau selaput otak (yang terberat)
 Pemberian imunisasi BCG 1 kali, dilakukan pada bayi yang baru lahir sampai usia 12 bulan, tetapi sebaiknya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan
 Reaksi yang akan nampak setelah penyuntikan imunisasi ini adalah berupa perubahan warna kulit pada tempat penyuntikan à pustula à pecah menjadi ulkus, dan akhirnya menyembuh spontan dalam waktu 8 – 12 minggu dengan meninggalkan jaringan parut

 Reaksi lainnya adalah berupa pembesaran kelenjar ketiak atau daerah leher, bila diraba akan terasa padat dan bila ditekan tidak terasa sakit. Komplikasi yang dapat terjadi adalah berupa pembengkakan pada daerah tempat suntikan yang berisi cairan tetapi akan sembuh spontan.

DPT
 Pemberian imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus dalam waktu bersamaan.
 Efek samping yang mungkin akan timbul adalah demam, nyeri dan bengkak pada permukaan kulit, cara mengatasinya cukup diberikan obat penurun panas .

Penyakit Difteri
 Disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphteriae.
 Mudah menular dan menyerang terutama saluran napas bagian atas dengan gejala Demam tinggi, pembengkakan pada amandel ( tonsil ) dan terlihat selaput puith kotor yang makin lama makin membesar dan dapat menutup jalan napas.
 Racun difteri dapat merusak otot jantung yang dapat berakibat gagal jantung.
 Penularan umumnya melalui udara ( betuk / bersin ) selain itu dapat melalui benda atau makanan yang terkontamiasi.

Penyakit Pertusis
 atau batuk rejan atau dikenal dengan “ Batuk Seratus Hari “ adalah penyakit infeksi saluran yang disebabkan oleh bakteri Bordetella Pertusis. Penularan melalui udara (batuk/bersin)
 Gejalanya khas yaitu Batuk yang terus menerus sukar berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan dan muntah kadang-kadang bercampur darah. Batuk diakhiri dengan tarikan napas panjang dan dalam berbunyi melengking.

Penyakit Tetanus
• Disebabkan Clostridium tetani yang memproduksi toksin yang disebut dengan tetanospasmin. Tetanospasmin menempel pada saraf di sekitar area luka dan dibawa ke sistem saraf otak serta medula spinalis.
• Masa inkubasi : 3-14 hari dengan gejala yang mulai timbul di hari ketujuh
 Gejala umumnya diawali dengan kejang otot rahang (trismus atau kejang mulut) bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan paha.

Hal-hal yang terkait prosedur vaksinasi
 Penyimpanan dan transportasi vaksin
 Persiapan alat dan bahan : untuk vaksinasi dan mengatasi gawat - darurat
 Persiapan pemberian :
 Anamnesis, umur, jarak dgn vaksinasi sebelumnya, riwayat KIPI, indikasi kontra dan perhatian khusus
 Informed consent : manfaat, risiko KIPI
 pemeriksaan fisik
 Cara pemberian
 dosis, interval
 Lokasi, sudut, kedalaman
 Pemantauan KIPI
 Sisa vaksin, pemusnahan alat suntik
 Pencatatan (dan pelaporan)

Tatacara Imunisasi:
Sebelum Imunisasi :
 Memberitahukan risiko dan tidak
 Persiapan dan baca informasi produk
 Pernyataan kesediaan (Konsen)
 Kontra indikasi dan jenis vaksin
 Perubahan vaksin dan tanggal kadaluwarsa
 Jadwal imunisasi
 Berikan dengan teknik yang benar
Setelah Imunisasi :
 Petunjuk pada orang tua reaksi kejadian
 Catat dalam rekam medis dan lapor
 Imunisasi keluarga

Jenis Vaksin
 Live Attenuated
(kuman / virus hidup dilemahkan)
 Inactivated
(kuman / virus tidak aktif)

Live Attenuated
Organisme hidup ® Modifikasi
Seperti penyakit alami ® replikasi
Dapat berubah jadi patogenetik
Terpengaruh oleh antibodi yang beredar

Virus : Campak, Gondongan, Rubela, Polio,
Rotavirus, Demam kuning
Bakteri : BCG dan Typhoid oral

Vaksin Inactived
Bakteri/virus dibuat tidak aktif
Vaksin fraksi berbasis prot, atau polisakarida
Tidak membuat sakit, tidak mutasi
Tidak dipengaruhi antibodi, respons humoral perlu booster
Sel virus : Influensa, Hepatitis B, pertusis aselular, Tifoid Vi,
Lyme Disease
Toksoid : Difteri, Tetanus, Botulinum
Polisakarida murni, Pneumokok, Meningokok, Hib.
Gabungan Polisakarida : Hib dan Pneumokok
Vaksin Rekombinan : Rekayasa Genetik (Vaksin Hepatitis B)

Vaksin Relatif Baru
 Pertussis acelluler (DPaT)
 Vaksin kombinasi
 Vaksin influenza
 Vaksin polisakarida: Haemophylus influenzae (Hib), Salmonella typhi, Pneumokokus, Meningokokus, Hepatitis A
 In-active (injectable) polio vaccine (IPV)

Ukuran jarum:
Intramuskular di paha mid-anterolateral

 Nenonatus :
• kurang bulan / BBLR : 16 mm
• cukup bulan : 22 mm
 1 – 24 bulan : 22 - 25 mm

Intra muskular di deltoid

 > 2 thn (tergantung ketebalan otot) : 22 - 32 mm
 Usia sekolah dan remaja : 25 – 36 mm

1 inch = 2,54 cm


Pemberian Vaksin
 Bicara pada bayi dan anak
 Tentukan lokasi penyuntikan : paha, lengan
 Posisi bayi / anak : nyaman dan aman
 Desinfeksi
 Pegang; peregangan kulit, cubitan
 Penyuntikan
 Dosis, Sudut, kedalaman
 Tetesan
 Dosis, hati-hati dimuntahkan
 Penekanan bekas suntikan
 Membuang alat suntik bekas
 Penulisan tanggal vaksinasi di kolom yang sudah disediakan

Pencatatan Vaksinasi
 Nama dagang, produsen,
 No. lot / seri vaksin,
 Tgl penyuntikan
 Bagian tubuh yang disuntik (deltoid kiri, paha kanan mis)

Safe injection : mengapa ?
 Estimasi WHO : 30 % suntikan imunisasi tidak aman (WHO bull. Oktober, 1999)
 Imunisasi rutin (Soewarta,1999: 4 propinsi):
 tidak disterilkan : spuit 38%, jarum 23 %
 alat suntik pakai ulang :krn tidak ada jarum (18%), tidak ada spuit (4%)
 Bulan Imunisasi Anak Sekolah (Soewarta,1999)
 45 % alat suntik tidak disterilkan
 alat suntik pakai ulang : krn tidak ada sterilisator (39%), tidak ada jarum (28 %) tidak ada alat suntik (6%)
 Suntikan dapat menularkan : hepatitis B, Hepatitis C, HIV, jamur, parasit, bakteri, menyebabkan abses
 Penyebaran melalui suntikan lebih cepat daripada melalui udara, mulut atau seks
Aman bagi
 yang disuntik
 penyuntik
 lingkungan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar